Pages

Thursday, January 31, 2013

Perlawanan Umat Islam Terhadap Raja Phillip Spanyol Setelah Jatuhnya Andalusia


Islamic-defenders - Penindasan-penindasan umat Islam di Spanyol di bawah Dewan Inkuisisi Spanyol dan penguasa Raja di Spanyol dirasakan sudah benar-benar di luar batas. Penghapusan identitas keislaman secara sistematis, paksaan, serta penindasan-penindasan terhadap kaum Moricos menimbulkan perlawanan di kalangan mereka. 

Kaum yang tertindas ini mengirim utusan ke Afrika untuk memohon bantuan sedang sebagian lainnya terus melancarkan aksi perlawanan angkat senjata di daerah-daerah pegunungan. Dengan sepenuh daya yang dimiliki, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan akidah. Namun sayang, usaha mereka menemui kegagalan. Surat-surat jawaban dari para pemimpin umat Islam di Afrika jatuh ke tangan kaum Salibis, penguasa Spanyol.

Dalam surat jawaban dari Afrika itu dinyatakan kesediaan pemerintah Islam di sana untuk menolong kaum muslimin yang hendak melarikan diri, juga siap mengirimkan pasukan dan kapal-kapal melalui pesisir Melilla dan Larache. Karena sudah diketahui, dua daerah itu akhirnya dijaga ketat oleh pasukan Kristen Spanyol.
Para pejuang muslim ini tidak putus asa. Semangat mereka tak sedikit pun menurun. Mereka lalu mengadakan peremuan rahasia di pingir kota Granada. Dalam pertemuan itu, Muhammad bin Umayah (Aben Humeya dalam lidah orang Spanyol) ditetapkan sebagai pemimpin. Dia berasal dari keturunan Bani Umayah. Pemimpin ini sebelumnya merupakan seorang yang sudah menjadi orang Kristen-paksaan hingga namanya harus berganti menjadi Fernando de Válor.

Muhammad bin Umayah dilahirkan di desa Valor, jantung wilayah pegunungan Las Alpujarras, Granada, pada tahun 1520. Ia lahir dengan nama Kristen, Fernando de Córdoba. Setelah diangkat sebagai pemimpin, dia disebut sebagai Raja 'Kecil' dari Las Alpujarras. Las Alpujarras merupakan wilayah dimana orang-orang muslim yang dipaksa menjadi Kristen-paksaan mengungsi.

Muhammad bin Umayah pertama kali memproklamirkan & mengobarkan perlawanannya pada malam Natal tanggal 24 Desember 1568 di desa Beznar atau Cadiar. Secara terang-terangan, para pejuang itu mengumumkan perlawanannya. Banyak rakyat yang bergabung dengan pasukan ini. Bahkan mereka berhasil merontokkan pasukan kerajaan yang berusaha memadamkan amukan pejuang muslim ini. Pejuang muslim ini juga didukung oleh kekuatan umat Islam bangsa Barbar dan Turki yang men-support dari arah pesisir Laut Tengah.

Perjuangan kaum muslimin kian menunjukkan kekuatannya. Beberapa gereja dan biara berhasil mereka kuasai. Sejumlah rahib dan pastur terbunuh. Para pemimpin agama yang melawan mereka buat tidak berkutik. Situasi pun makin meledak. Penguasa Spanyol merasa perlu mengerahkan pasukan dalam jumlah yang besar untuk mengepung daerah pegunungan yang dijadikan basis perjuangan para mujahid. Pada tahun 1569 M, pecahlah perang besar. Pasukan penguasa Kristen Spanyol berhasil mematahkan markas pertahanan kaum pejuang muslim.
Para mujahid Islam itu tetap melawan. Mereka tak kehilangan semangat juang. Sebagian bergerilya di pegunungan-pegunungan, sebagian lagi berhasil diselamatkan oleh kapal-kapal penyelamat Islam untuk dievakuasi menuju Afrika. Namun misi penyelamatan itu bukan tanpa kendala. Mereka tetap harus bertempur di daerah pesisir terlebih dahulu sebelum berhasil menyelamatkan diri. Perang pun tidak memberi tanda akan segera berakhir. Para pejuang muslim yang tersisa itu justru semakin menunjukkan amarahnya melawan pasukan penguasa Kristen.

Kegentingan itu membuat Raja Phillips Spanyol geram dan tidak sabar juga. Ia mengirimkan jumlah pasukan yang lebih besar lagi personilnya. Pemimpinnya adalah adiknya sendiri yang bernama Don Juan de Austria. Ia bertolak dari Sevilla menuju El Bayazin dan tempat-tempat lainnya untuk mematahkan perlawanan. Sedang kaum pejuang tetap berusaha bertahan habis-habisan. Prinsip jihad mereka canangkan. Lebih baik mati syahid daripada diperbudak penguasa Kristen yang kekejamannya sangat melampaui batas.

Dalam pertempuran sengit itu, Muhammad bin Umayah gugur. Sebagai gantinya, diangkatlah Pangeran Abdullah (Aben Aboo menurut lidah orang Spanyol). Nama Kristennya Diego López. Gugur dan munculnya pemimpin pasukan perlawanan umat Islam tidak menghentikan peperangan sepanjang musim dingin.
Siasat lain dibuat oleh pasukan penguasa Kristen Spanyol. Panglima tertinggi pasukan Kristen menawarkan perundingan dan memberi janji amnesti bagi yang mau menyerah. Kepada golongan Kristen-paksaan yang tidak ikut melawan, diberinya kelonggaran dan perbaikan nasib. Ternyata ajakan ini mempengaruhi sebagian kaum pejuang. Mereka rupanya telah jenuh dengan peperangan yang tidak berakhir. Sebagian lain memilih lari ke Afrika karena takut balas dendam yang mungkin sekali akan dilancarkan pada diri mereka.

Persatuan dan kesatuan pasukan pejuang di bawah pimpinan Pangeran Abdullah sudah terkoyak-koyak. Sementara di sisi lainnya, pasukan penguasa Kristen justru semakin menunjukkan kemenangannya. Pasukan Kristen berhasil mendesak kaum pejuang sampai pada akhirnya pangeran Abdullah gugur karena dikhianati pengikutnya. Jasad pemimpin mujahid yang sudah gugur ini pun kemudian dibawa ke Granada. Tubuhnya yang sudah tak bernyawa masih saja dicincang-cincang oleh penguasa Kristen dipertontonkan di depan masyarakat umum.

Sisa-sisa kelompok pejuang dipaksa mengosongkan rumah-rumah mereka. Mereka disuruh mengungsi ke daerah Asturias dan Guernica dengan pengawasan yang sangat ketat. Sebagian dari mereka menggabungkan diri dengan sebagian kelompok perlawanan lain di Valencia dan daerah-daerah lain di Spanyol. Tetapi penguasa Kristen dengan mudah menumpas perlawanan mereka dengan keji. Darah kaum muslimin yang melawan mengalir dimana-mana. Jasad mereka dibakar bagai onggokan kayu.

Sementara nasib umat Islam lainnya yang masih menjadi kaum Kristen-paksaan nasib mereka terkatung-katung dan terus melanjutkan hidup di bawah kekejaman dan penindasan kekuasaan raja Kristen Spanyol. Sebagian besar diantara mereka kemudian diusir keluar dari Spanyol dan dibawa ke Afrika.


Sumber Referensi:
Muhammad Ali Quthub. 1993. Fakta Pembantaian Muslimin di Andalusia. Solo: Pustaka Mantiq
http://www.andalucia.cc/adn/0697per.htm
Wikipedia.org

No comments:

Post a Comment